We cannot learn from one another until we stop shouting at one another, until we speak quietly enough so that our words can be heard as well as our voices (Richard Nixon)
Peringatan : Sebaiknya tidak usah dibaca, puanjaang dan jauh dari sempurna, dibuat karena merasa sebagai masyarakat ilmiah ketika melakukan kritik tentunya tidak asal mbengok dan menyalahkan sebaiknya diikuti dengan saran yang bertujuan membangun untuk kemajuan bersama.
Lho katanya mau merenungi tentang solusi IPDN?
Bismilllahirohmanirrohim
Alasan mengapa bubar adalah suatu pilihan rasional telah kutulis, adik kecil yang pinter nulis dan nggambar ini menjelaskan dengan gamblangnya (luar biasa… percaya deh yang ga baca nyesel seumur hidup…) lalu tulisan bapak ini membuatku tak kuasa menahan air mata dan umbelku berleleran membayangkan ibu praja yang setelah 14 tahun baru bisa melihat makam anaknya, menambah ke”keukeuh”an-ku, kemudian berita disini mengkomplitkan.
Andai IPDN di bubarkan kemana mahasiswanya? Sora dan Amed sudah menjawab juga di dalam petisi sudah ada usulan tersebut. Hampir setiap universitas ada Ilmu pendidikan Administrasi negara. Selama ini kita sebenernya ga pernah mikirin mahasiswa itu lulus trus kerja di mana khan? Pada sibuk ngelamar sendiri cari kerja, kadang sesuai dengan background banyak yg engga. Padahal aku rasa semua mahasiswa yang udah pernah S1 pasti mampu menjadi camat, bila di beri kesempatan, bila perlu mereka yg kuliah dan ingin kembali ke daerah menjadi camat juga di beri kesempatan serta beasiswa di universitas tersebut.
Tapi IPDN khan punya keahlian khusus untuk menjadi camat khan kudu ada aturannya? Keahlian khusus itu gimana dong dapet dari mana? Kampus IPDN dan seluruh sarana prasana buat apa dong?
Bagimana kalau sarana dan prasarana IPDN itu di manfaatkan jadi Pusat Pendidikan Daerah, kita namakan aja Lembaga Kepemimpinan Daerah (LEMKEDA), tadinya aku mau namakan LPDN (Lembaga Pemerintahan Dalam Negeri) tapi ntar masih pada trauma masih ada PDN2 nya lagi, kita pake kata kepempinan aja… jadi instead of main perintah-perintah doang… diharapkan memimpin dan mengayomi.
Seperti para calon pejabat eselon 1 dididik di LEMMHANAS, ada bagusnya juga ya kalau para calon camat atau Bupati dan Walikota terpilih sebelum menempati daerahnya di sekolahkan di LEMKEDA, jadi mereka benar2 tahu apa yang bakal mereka hadapi dan disana bisa belajar bareng, eksplorer daerahnya bikin makalah tentang daerahnya, presentasi planing2 cara pengembangan di bidang pertanian, ekonomi dsb. Tentu saja di bawah bimbingan dosen2 yang berkualitas dari berbagai disiplin ilmu pendidikan, pertanian, ekonomi, manajemen dsb, nah tentunya termasuk juga para sarjana yang ingin jadi camat bisa mendapat pendidikan tambahan di tempat ini. Lama pendidikan, kurikulum dsb tergantung pada yang pelaksana pendidikan, ini hanya usulan mentah. Dengan begitu tempat berhantu itu masih bisa di fungsikan dan pegawai2nya masih bisa bekerja di sana.
Aku juga ga tahu sebenernya apakah lembaga semacam ini sudah ada atau belum? Yang udah ada LAN , ini hanya sebuah wacana saja, bila ada kerja sama lintas sektoral di level pemimpin pusat, kenapa ga di buat juga hal yang sama di level daerah?
Wacana selanjutnya andaikan IPDN tidak di bubarkan, wah….pesimis neeh, lho bukan begitu, setiap usaha selalu ada dua kemungkinan khan berhasil atau tidak. Kita tidak pernah tahu kalau tidak mencoba, tapi kita harus siap apapun yang kita hadapi di depan mata. Kegagalan saat inipun bukan suatu ketidak berhasilan yang patut untuk di tertawakan ( awas yang berani ngetawain para petitioner… tak suruh praja IPDN nyabut gigimu lho…hehehe). Dari suatu kegagalan kita mendapat pembelajaran yang berguna … Einstein, Thomas Alfa Edison dsb juga belajar dari kegagalan.
Apapun yang terjadi kita semua harus tetap mendukung keputusan Presiden pilihan kita semua, mungkin bapak2 diatas sana telah mempertimbangkan matang2 dengan melakukan analysis problem solving and decission making menggunakan diagram fishbone analysisis . (ehmm pada ngarti kagak ya?).
Bila hal ini terjadi cara melanjutkan perjuangan selanjutnya adalah dengan turut mengawasi IPDN. Lho emangnya bu Evy mau ngajarin kita jadi mata-mata?
Hehehehe…maksudku begini…sebagai stakeholder…, masyarakat wajib membantu menormalkan Praja IPDN menjadi manusia yang ramah, penuh kasih sayang tapi tegas instead of manusia robot yang takut ke atas tapi nginjek kebawah. Demikian pula kampusnya menjadi kampus yg terbuka instead of kampus yang horor. Bila perlu kita jadikan salah satu kunjungan field-trip mahasiswa atau murid2 sekolah, kita sibukkan mereka dengan mengurusi tamu instead off gontok2an. Sehingga mereka terpaksa menjadi host tamu-tamu, anak2 kecil bisa ikut belajar bagaimana sih jadi camat itu, apa aja sih yang di kerjakan, dibikin simulasi misalnya klo si anak mau bikin KTP apa aja yang harus di isi selanjutnya apa yang di kerjakan setelah mengisi fomulir, dst. Mungkin mereka juga diminta untuk membimbing anak2 ini melakukan kegiatan di lapangan yang jelas bukan gebuk-gebukan, tapi kegiatan seperti di gambar ini sehingga mereka akan benar2 belajar cara jadi “Pembina” yang baik karena yang dibina adalah anak2 imut…
Wadoow capeknya…padahal cuman mikirin satu kasus aja, ndahno pak SBY dengan segitu banyak kasus yang complicated. Terimakasih sudah mau membaca, perjuangan tetap berlanjut karena tujuan utama perjuangan ini adalah Indonesia yang aman dan damai, penuh cinta kasih tidak saling berantem dan mengadu kekerasan, ini bukan negeri kampret bau kelek nya mas Luigi, dimana perempun masih di “rape”.
Kuakhiri 8 seri tulisan saya tentang IPDN in dengan permohonan maaf bila ada yang menyinggung perasaan, tidak ada tendensi apapun, dan mulai hari ini aku ikhlaskan kepergian Cliff, Wahyu, Erry dan 34 praja lainnya semoga amal ibadah mereka di terima di sisi Allah SWT.
Aku bukan pejuang HAM, apapun yang terjadi di negara tercinta ini adalah tanggung jawab kita semua marilah kita bantu pimpinan untuk membangun Indonesia. Mulai hari ini aku akan berusaha tersenyum lagi dan kembali menjadi dokter gigi seperti biasanya.
Percayalah perjuangan tidak pernah sia-sia meski hasilnya tidak langsung terlihat, ingat perjuangan Kartini berpuluh tahun lalu, terbukti di jamanku kini wanita tidak lagi dipingit, tapi bisa jadi dokter dan nge-blog…
Alhamdulillahirabbil Alamiin








Perjuangan Wanita, bukan hanya sebuah isapan belaka.
semoga timbul kartini-kartini yang baru di negri ini..
selamat hari kartini untuk para wanita indonesia.
Pertamax!!!! Klaim posisi doeloe…
malu… malu… *menatap penuh dendam pada clukindahose*
Pertama
Saya benar-benar buta bahasa jawa, pacaran sama cewe jawa pernah…
Kedua
Perjuangan tidak akan pernah sia-sia, selama dilandasi dengan niat meluruskan kebenaran
Ketiga
Perbedaan cara tidaklah menjadi alasan untuk mengambil posisi berseberangan. Terkadang, kita hanya orang-orang yang berbeda jalan dalam menuju tujuan yang sama
Keempat
Tunggu pembalasannn’ku clukindahose!!
whuuus………
*senyum-senyum sendirian* menatap manusia super.. peace.
wuaaahhh…endingnya mantaaaabsss…
“Percayalah perjuangan tidak pernah sia-sia meski hasilnya tidak langsung terlihat, ingat perjuangan Kartini terbukti di jamanku kini wanita tidak lagi dipingit, tapi bisa jadi dokter dan nge-blog…
Alhamdulillah”
selamat hari kartini, dok…
selamat hari kartini, bu dokterkuuuu….
moga2 ibu kartini terlalu sedih lagi liat IPDN,,kan kita udah usaha..
Dasar kartini jaman sekarang
*ngelus2 jenggot machoism, patriarki, primordial dan kambingism*
Kalau berhasil… selamat!! Itu bukan cuma karena petisi, tapi juga karena kesadaran SBY untuk tegas menghentikan “penambahan (maaf) koruptor dan pejabat jahat dengan uang negara”. Keputusan ada di tangan dia kan?
Kalau gagal, ya wajar, banyak pihak berani bertaruh bahwa SBY akan terlalu takut untuk membubarkan IPDN. Apalagi mengusut lulusannya. Ada berapa banyak (ribu?) alumni STPDN/IPDN yang sudah berkuasa di luar sana? mereka bisa saja membuat SBY celaka. Belum lagi orang-orang yang kerabatnya ada di IPDN dan sedikit lagi jadi camat. Mereka ini ancaman serius.
But shit happen. Bisa aja beliau mendadak berpikir seperti yang saya hayalkan. Tiba-tiba jadi berani melawan semua berhala dan mulai membela rakyat. Lihat nanti…
Btw, selamat hari Kartini
selamat berjuang bu Evy dkk. tentang postingan yang puanjang ini, tenang saja saya nggak pernah bosen kok baca blog anda yang super mantabs ini..hehehehe.
Selamat hari Kartini…
Selamat jg buat Ibu Evy dan kawan2 yg lain yg meneriakkan penghentian kekerasaan di Indonesia.
*clingak-clinguk*
Siapa ya…? Ada yang kenal?
Hmm, bingung… Eh, kenalin dong Bu, kalau ketemu orangnya.
wax…telatt…
selamat hari kartini…
*kabuuurrr…lagi menyelesaikan deadline*
Diskusi kan ya, Mbak? Kalau gitu boleh nanggapin yang ini ya:
“…maksudku begini…sebagai stakeholder…, masyarakat wajib membantu menormalkan Praja IPDN menjadi manusia yang ramah, penuh kasih sayang tapi tegas instead of manusia robot yang takut ke atas tapi nginjek kebawah…”
Memang 100% betul, Mbak. Idealnya, pemerintah daerah itu jadi manusia ramah, penuh kasih sayang, tapi tegas dalam menjalankan fungsinya melayani “stakeholder”.
Masalahnya, stakeholder itu cuma punya saham, sementara sehari2nya pekerjaan dilakukan oleh si perusahaan. Lha, kalau budaya perusahaannya sudah kayak robot yang takut ke atas tapi nginjek ke bawah, gimana stakeholder mau “membantu menormalkan” calon2 pegawainya?
Itu yang jadi pertanyaanku sejak awal. Biarpun IPDN bubar, prajanya masuk universitas2 lain, kalau nantinya mereka lulus nyemplung ke “perusahaan” yang “budayanya” seperti sekarang, apa bisa? Wong Presiden yang ada di puncak pimpinan negara aja (anggap masuk perusahaan langsung jadi CEO) nggak bisa berkutik ketika mayoritas pegawai di “perusahaan” yang dipimpinnya masih menganut budaya kerja yg lama?
sebelumnya met hari kartini bu dokter….
terkait hari kartini… ternyata kartini2 di IPDN harus dilatih tangguh untuk menghadapi cobaan2
Selamat hari Kartini untuk semua wanita-wanita penerus generasi bangsa Indonesia. Semoga akan semakin banyak wanita yang berjiwa Kartini.
trimakasih clunki perjuangan kok isapan?
weleh salah
Pertama
Udah kuhapus jawa2nya tadinya spy jangan ada yang salah paham, berhasil ngadalin cewe jawa ya…?
Kedua
Perjuangan tidak akan pernah sia-sia, betul sekaleee
Ketiga
Perbedaan cara tidaklah menjadi alasan untuk mengambil posisi berseberangan. Terkadang, kita hanya orang-orang yang berbeda jalan dalam menuju tujuan yang sama
Nah tapi banyak yang ga tahu dan menyepelekan, lucu…
Keempat
lhaah apa gunanya ngono di atas!!
whuuus………
halah tiwas mikirno solusine ga di woco cuman endinge thok hahaha, selamat hari kartini juga mbok, sanggulan mlaku timik2… hahahaha
selamah hari kartini juga psikolog-ku
so pasti ibu kartini bangga sama kita cewe2 Indo yg manis2..hihihihi tapi mau berusaha.. dan speak melalui petisi
Dasar kartini jaman sekarang
Wakakakak kartini jaman sekarang pake jeans, naik harley helll
Bener sekale hell, klo mudah2an pak SBY nggak perlu takut lha kita aja yang ga di kawal ga takut gemane sih, dan rakyat selalu mendukung beliau, bener khan? Apapu yang beliau buat kita akan dukung terus
Thanks banget ya senja… sufer manstab gemane…cah ayu?
Thanks Aufa, mari kita berteriak bersama demi masa depan bangsa yang aman dan damai
Ya ntar di kenalin deh, mirip2 sama kamu lho dik..hehehe
Kejaaarrrrr…. Deadline!!!!!
Naah justru itu dik May, kini saatnya stakeholder mulai bersuara, budaya itu bisa di rubah khan ? Dari pada kita diem terus, kalau dikit2 berusara khan lama2 bikin berisik akhirnya di dengar juga to? Trus kalau calon pegawainya kita ikut normalkan khan paling ga nanti begitu dia masuk ke perusahaan itu dia tahu bagaimana bersikap normal, lama2 yang tua2 juga mati, di ganti yg baru dan normal dan di dukung sama stakeholder, memberentas budaya emang ga mudah tapi bukan berarti kita pasrah to, tetep usaha gitu lho, meski belum tentu berhasil, dikit2 usaha terus lama2 InsyaAllah ada changing. Kalaupun ga bias mbubarin IPDN tapi paling ga mereka tahu telah di awasin sama stakeholdernya… jd ga semena2 lagi, gitu say..
thanks Arul, perempuan itu sebenrnya lebih tahan kok
meski secara fisik tampak lemah
hehehe tapi kartini ga ngadu trafict pak….meski gampang aja klo mau menang, pasang foto porno hahahaha
Habis Gelap Terbitlah Terang … Only The Good Die Young
Waduh ketinggalan aku…
Met hari kartini Eviiiii….. Gak usah pake embel embel ibu ah…
telat 2 hari, ga di setrap kan bu??
Selamat Hari Kartini juga…
Salut dan bangga kepada Kartini masa kini yang tercermin oleh perjuangan bu dok…
Semoga saya bisa mengikuti jejakmu.
Hmm… akhirnya ada kembali senyuman… hehehe
selamat hari kartini mbak, semoga apa yang di perjuangkan tercapai..amin
terus berjuang!!!
[...] bantahan tentang tudingan konyolnya gerakan ini. Selain itu, ada pula pandangan sudut keibuan dari ibu dokter dan bapak keibuan [...]
fyuh….
emang berat ternyata ngejalanin hari kartini
kartononya mana???
trus sampe saat ini aku ngak mudheng apa hubungannya kartini dengan kekerasan
Aku kok rung arep mandheg ngomongke IPDN, Bu. Ben dho bosen le maca.
GW… Gak bisa berucap… tapi semuanya GW Baca LHO… Makasih Sambutannya yang hangat… Kapan2 pasti GW mampir lagi
*saya mau ketawa dulu, baca komen atas saya ini*
*jelmaannya kang kombor mesti*
*hihihihi*
…:::: OOT ::::..
di lampung, deket rumah saya, ada gajah yang lahirnya tanggal 21 April…dinamakan Kartijah (kartini-nya gajah), hihihi….
yaiks..*menyembunyikan
kemaluanmuka*maksud saya, jelmaan kang kombor itu komentar ke 24 lho..bukan si warga banten..tapi si arif…hihihi…..
Iya kenapa ya the good die young
Hehehe iya gpp ga pake embel2 juga… sudah lembe2 kok
hayyo pojoook dulu hahaha
mengikuti jejakku tersenyum aja ya teh… hehehe
amin…perjuangan ga pernah berhenti kok mbak mei
Merdekaa!!!
engga kok Vank biasa ajaaa
kartononya lagi ke pasar cak…hahaha kartini nge blog
hubungannya kartini dengan kekerasan, mungkin sama keras kepala kali yeee…klo ga keras kepala ga bias maju kang
Yo mandek sementara kang, tarik nafas…aku capek tensi tinggi melulu
Kembali kasih… dan makasih udah baca semuanya GW Baca LHO…
*duduk jelmaan tapi jadi2an to*
…:::: OOT ::::..
OOO gajah yg kamu naikin itu namanya Kartijah toooo , hihihi….
ibu evy,
artikelnya sangat bagus.
aku kurang paham ilmu tata-negara, jadi aku tak bisa berkomentar secara ilmiah seperti ibu. aku cuma ingin mengatakan, menjadi seorang camat, seperti kata ibu, memang tidak mutlak harus jebolan ipdn.
ini cerita nyata. di kampungku, di kawasan tapanuli di tepi danau toba, aku mengenal puluhan camat, kepala dinas, sekda, dan bupati. aku kenal baik dan tahu kinerja mereka — kebetulan karena profesiku sebagai jurnalis. yang kutemukan adalah fakta ini: bahwa justru pejabat yang bukan alumni ipdn [dulu stpdn] secara umum bisa bekerja lebih baik.
aku sendiri dulu sempat tak percaya ini. pejabat-pejabat yang bukan tamatan stpdn lebih cepat dan tanggap menyelesaikan permasalahan masyarakat. menurutku, karena mereka, yang notabene pns karir, adalah putra daerah yang umumnya berusia lebih tua dan lebih arif menghadapi permasalahan pembangunan di daerahnya. sementara kelebihan mereka yang didikan “sekolah calon pejabat” lebih kepada kemampuan administrasi yang lebih rapi dan akuntabel.
soal moral? keduanya — baik alumni “sekolah calon pejabat” maupun pejabat yang dulu diterima lewat ujian cpns — sama-sama bagusnya dan sama-sama bobroknya. singkat kata: mereka sama-sama piawai dan terampil “mengeklik” anggaran untuk dikorupsi.
ah, aku jadi teringat, di rezim orde baru aku pernah menulis feature soal ini: “jangan-jangan di ’sekolah calon pejabat’ itu juga dipelajari teknik mengembat uang negara secara elegan dan tidak kasar.”
salam kenal ibu evy.
http://www.batak.in
Pendaftaran Top-Posts Maret-April 2007 telah dibuka.
Silakan daftarkan postingan Anda di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/05/02/pendaftaran-top-posts-maret-april-2007/
[...] tujuan akhir bangsa dan negara jadi urusan PERDULI mah tetep… tolong baca di merenungi IPDN di hari kartini bagaimana [...]
Waduh Bu’ panjang banget niy, capek eke bacanya
)