Peringatan : bagi yang bosen lebih baik ga usah dibaca toh memang itu yang ditunggu, seperti biasanya semua pada bosen dan melupakan, aku belum bosen dan masih mau menulis beberapa seri posting berkaitan IPDN, hatiku terluka dan pedih sulit sekali sembuhnya neeh, masih belum mampu menulis yang lain…
Sejak mendengungkan Pembubaran IPDN dimilis2, aku banyak mendapat email, pertanyaan semacam, siapa dong yang jadi camat? Bagaimana nasib ke 4000 praja, trus apa gunanya sarana dan prasarana yang sudah ada..? Positif thinking dong kenapa ga di perbaiki? Alasan yang sudah kutulis disini, disini dan disini tidak cukup kuat, katanya itu alasan emosional (wheleh masih mending punya emosi drpd “dingin”), kata mereka kasih dong alasan yang rasional jangan alasan2 cengeng…
Temans semua tentunya punya alasan dan aku yakin bukan karena ikut2an tapi karena hati nurani terdalam yang bicara, setelah membaca fakta. Dari Cak Moki sampai adik kecil yang sedang menjaga ke”virgin’annya, Pak Peyek dengan bambu runcingnya, adik yang pinter gambar, tentu saja penggilas anarki, pasienku mbak X-woman dan bahkan calon orang tenar ini masih banyak lagi hampir seluruh blogger yang ku kenal mohon maaf bila namanya tak tersebut dan terimakasih sudah nge-link.
Beberapa yang mengaku humanis mengatakan khan masih banyak praja yang baik, lho betul sekali…aku sangat setuju, justru itu kita harus menyelamatkan mereka supaya tidak terkontaminasi atau bahkan mati khan?
Beberapa juga memberiku teori2 aneh, seperti yang ditulis wadehel dan kang Roffi. Lha gimana ga aneh bin ajaib, bahkan sama sekali tidak berperikebinatangan berperikeprajaan menurutku, mosok praja2 di samakan dengan tikus, clurut ataupun kutu rambut, atau bahkan dengan kaki yang busuk yang mambu?
Klo praja pembunuh pembina itu tikus khan ga cukup sekedar dihukum 7-10 bulan tapi kudu di bakar to? (memikirkan mbakar tikus aja aku ga tega) Teori kutu rambut kang Roffi punya tips-nya, dulu klo dapet pembantu baru dari kampung langsung beli peditok lima botol, ga cuman si embak yang di peditok kepalanya termasuk diriku dan anak2, lha parasit ini telornya bisa kemana2 jeee… kalau praja2 itu sama dengan kutu rambut basmi mereka pake peditox dong…
Lantas teori amputasi, oke..oke…kaki di amputasi karena gangren atau tumor… di potong selanjutnya di rendem formalin dan dikirim ke laboratorium untuk bahan penelitian, wah2 apa iya harus kita formalin praja2 ini?
Ikutan cara pak deking yang pake ilmu matematika, kita itung bareng2 yuuk, setiap tahun IPDN menerima 1000 mahasiswa, selama kurun 17 th telah terbunuh meninggal 37 orang jadi kira2 dua orang pertahun, melihat pola yang menyiksa 10 orang setiap kejadian jadi total per-angkatan menghasilkan 20 orang pembunuh pembina, yang mengundurkan diri 10 orang. Sisanya 968 orang adalah pembohong dan melindungi ke 20 orang itu, bahkan kepada wapres yang notabene kelak menjadi pimpinan tertingginya bisa berbohong, sudah di peringatkan presiden jangan ada GTM tetap sperti itu, lha yang menjadi atasan mereka itu siapa para senior dan instusinya apa presiden? Jangan lupa 350 orang pembunuh penyiksa yg masih bebas berkeliaran tanpa merasa bersalah.
Bisa dibayangkan apa yang telah terjadi kepada mereka? Kalau membaca berita disini iklim kekerasan di bentuk oleh tim pengasuh yang notabene adalah lulusan STPDN sehingga hal inilah yang diduga melanggengkan budaya kekerasan di sekolah para praja tersebut.
Btw..btw…tapi khan bisa rekonstruksi total… para pengasuh dan dosen yg melindungi tindakan kekerasan di pecat, lalu di kasih kamera… lha klo yang masuk ya lulusan STPDN lagi tradisi kekerasan itu ga pernah berakhir, you do from what you learn… kamera mah gampang ngakalinnya pasang aja video keadaan tenang dan damai di depan kamera, berees…
Bila kita mau menanam, sedang tanah itu busuk dan beracun kira2 hasil buahnya seperti apa ya? Apa yang harus di lakukan bila kita ingin buah itu manis? Ya di ganti dong tanahnya buang tanah beracun itu kalau perlu musnahkan di kremasi jadi abu, jangan sampe meracuni tempat pembuangannya. Ambil tanah baru yang sehat dan subur sehingga buahnya manis… iya apa iya?
Begitulah alasan rasional-ku…klo masih ga paham juga, cukur dulu rambutnya abis itu di peditox… mungkin sudah terlalu banyak kutu menghisap darah kepala.
Ngapain sih ikut2an petisi, halaah wong IPDN ga bakal di bubarin aja…, welll pada saat memutuskan untuk mendukung petisi ini yang aku dukung adalah kebenaran karena kebenaran itu absolut, masalah ga dibubarin itu urusan politik, yang penting aku punya sikap dan tidak hanya berdiam diri jadi penonton dan menanggung dosa kolektif membiarkan kesewenang2an di depan mata, enough is enough…that’s it.
So dont worry be happy apapun hasilnya kita ga usah kecewa… what is the next step? Klo minta di bubarin kudu ada solusi dong solusiii….OK udah ada di kepala sih sebenernya tapi next posting aja yaa…
Have a nice week end everyone…








Pertamaxxx…
Bubarkan IPDN.
nyepam hatrixxx…
hohohohoho,, berjuang Bu,, masukin ke RSJ aja orang yang udah ada gangguan itu,,
weleh teoriku ngak separah yang lain ya, nyamain mereka dengan robot biologis yang berGTM
Itu sih masih mending cuma bohong buat sementara. Coba kalo mereka nantinya jadi pejabat, ilmu bohong membohongi itu pasti akan digunakan untuk korupsi. Nah, kalo udah gitu kan bahaya.
Indonesia sekarang aja kesulitan memberantas koruptor, apalagi jika ditambahi sama mereka.
Temen2ku harus baca tulisan mba evy ini nieh.. tapi keknya mereka udah males duluan ama link2 yang aku kasih
have a nice weekend juga mba evy
Dengan ikut petisi kita menunjukkan sikap kalo kita nggak ndukung&nggak ridha atas tidak dibubarkannya ipdn.
@6:
Kalo mo sukses jadi pejabat terus jadi koruptor harus punya ilmu bohong-membohongi. Emang udah parah ini, blum jadi pejabat udah diajari boong.
…..
BANZAAIIII!!!! *ga jelas*
have a nice weekend bu…
heran juga mbak, saya orang yang baru kemarin sore teriak-teriak pembubaran diminta untuk memberikan alasan rasional
Pengen tahu juga apa alasan rasional yang bisa menjelaskan kekerasan mereka, terpidana tapi masih bisa menjabat, alasan formalin, dekan itu, kuburan didalam, alasan kematian yang disampaikan ke keluarga korban, kebiasaan ngesex ngawur itu, kebiasaan tutup
anusmulut, pos sekuriti yang punya penjara (hayo dimanalagi kalo nggak di IPDN), tanggung jawab moral mereka terhadap uang rakyat, dan seabrek alasan lain,halah pegel mbelani cah
gendenggemblung kuwi!bu dokter, aku tungguin terus lho tulisannya soal IPDN,,
abisnya lebih pake sisi feminin sih,, jadi ngidupin perasaan,,
lebih ngena gt,,
daku kan wanita..hehe47x..
bu, kalaupun usaha yg kita semua lakuin ini ga didenger sama penggede itu atau bahkan cuma jadi angin lalu, yang penting kita udah bertindak ya, bu..
yg penting kita memperjuangkan apa yg menurut kita patut untuk diperjuangkan,,
perjuangan ga pernah sia2 kok, bu. karena bila ga ada orang yg mau mulai, sampai kapanpun ga akan ada yg bergerak..
keep on fighting!!!
Halo mbak Evy ??? Senyum sehatnya sekarang menghilang ya?
gpp .. asal tetap sikat gigi mbak biar senyum ga benar2 hilang. Pun kata2 bijaknya berganti dengan kata2 tuntutan. Memang sangat memprihatinkan dan membuat sedih.
Kebayang deh, bagaimana kalo itu terjadi pada orang2 dekat kita. Wong kita ga kenal aja, kita ga rela. Mungkin yang saya kawatirkan bukan soal dibubarkan atau tidak mbak. Tapi dia menjelma dalam bentuk lain.
Karena yang dibubarkan adalah IPDN nya bukan KEKERASANNYA. Kekerasan menjelma dalam bentuk lain. Dalam lembaga lain. Iihhh ngeri deh ngebayanginnya. Jadi ingat buku Rhenald Khasali. Untuk mengubah sesuatu itu ga gampang. Yang harus di ubah adalah DNA nya agar tercipta bibit unggul.
Mbak .. mbak .. saya pengen sekali merasakan SENYUM SEHAT mbak lagi. Bukan berarti kita ga peduli mbak. Bukan berarti kita berdiam diri. Mbak tahu sendiri lah .. gimana bangsa ini. IPDN boleh bubar. Tapi apakah roh KEKERASAN akan ikut bubar mbak?
melihat watak SBY yg cenderung terlalu hati2 terkesan lamban dalam mengambil keputusan, IPDN gak bakalan dibubarkan. Coba kalo presidennya Gus Dur, pasti habis tuh IPDN. Hidup Gus Dur!
@12
Karena yang dibubarkan adalah IPDN nya bukan KEKERASANNYA. Kekerasan menjelma dalam bentuk lain. Dalam lembaga lain. Iihhh ngeri deh ngebayanginnya. Jadi ingat buku Rhenald Khasali. Untuk mengubah sesuatu itu ga gampang. Yang harus di ubah adalah DNA nya agar tercipta bibit unggul.
Bukannya tidak mendukung pembubaran IPDN, tapi saya rasa yang penting adalah membubarkan substansi dari peristiwa IPDN yaitu HAPUS KEKERASAN. Kekerasan tidak hanya terjadi di IPDN. Dulu terjadi kekerasan di OPSPEK untuk mahasiswa baru. Dulu dan sekarang, masih terjadi tawuran di kampus dan tawuran pelajar.
Menurut pandangan saya, kalau gigi sakit, bukan berarti gigi harus dicabut, tapi perbaiki gigi dulu. Kalau memang sudah rusak, baru dicabut. Bukan begitu bu.
@Erander, juga semua yang melulu pake pembenaran isu kekerasan. Bubarnya IPDN akan sekaligus jadi tumbal, kampus lain akan mikir-mikir kalau mau mendiamkan kekerasan. Mereka akan jadi lebih aware.
Dan pembubaran IPDN ini BUKAN hanya soal kekerasan, ini juga usaha “memutus penambahan jumlah pejabat korup, yang dibiayai negara”. Indonesia tidak perlu membuang uang terus untuk mencetak orang-orang yang pandai berbohong dan kesetiaannya bukan pada negara.
Mohon maaf untuk semua yang putra-putri/kerabatnya sebentar lagi jadi PNS atau camat, kami ikut merasakan kekhawatiran anda. Semoga segera ada solusi yang win-win, mereka tetep bisa jadi PNS, tapi Indonesia tidak ketambahan pejabat laknat
@Bu Ev, semoga posting berikutnya bisa menjawab orang-orang yang melulu fokus pada kekerasan. Jelaskan bahwa ini juga soal birokrasi yang sudah sangat membusuk, KKN yang sudah terlalu rimbun, dimana banyak STPDN/IPDN yang ikut bertanggung jawab mendiamkannya.
kalau kita melakukan bukan karena amarah, tidak akan ada kekecewaan, seperti yang aku bilang kita berbuat bukan untuk tersenyum melihat kekalahan mereka!
[...] 20th, 2007 by sora9n Baru dapet pingback dari Bu Evy… tadinya saya mau nulis sesuatu yang lain, tapi kayaknya hal yang ini perlu diluruskan [...]
@ grandiosa
Makanya pake istilah yg lebih manusiawi dong.
Seperti manusia tak tahu aturan, manusia kanibal, atau istilah lainnya pokoknya ada kata “manusia”nya.
[...] (keluhan) serupa juga dituliskan oleh Bu Evy dengan tulisan Alasan rasional dong!!! Pada intinya tulisan beliau sama dengan tulisan ini tapi dari sisi yang [...]
[...] harus tegas menjawab, Tidak! Selalu ada jawaban RASIONAL yang bisa kita berikan terhadap pertanyaan-pertanyaan apatis yang menyertai perjuangan [...]
waduh tulisan kutu tikus saya terekspos….
Benar bu dokter, yang dipertanyakan sekarang adalah justru alasan rasional apalagi yang bisa diterima akal sehat agar IPDN bisa dipertahankan. Bukan sebaliknya..
Setuju….
Setidaknya kita sudah berusaha…
Aku bingung dengan Erander. Sudah ada di dua blog komentar senada yang diberikan oleh Erander tetapi aku belum lihat solusi apa yang diberikan oleh Erander.
Kalau boleh saya katakan, kita tidak akan pernah bisa membunuh roh kekerasan karena roh kekerasan itu sudah eksis sejak zaman Qabil dan Habil. Menurut saya, kami ini tidak sedang akan membunuh roh kekerasan atau membasmi seluruh kekerasan. Dalam pandangan saya pribadi, saya sedang memperjuangkan untuk menutup sebuah institusi yang penuh dengan kekerasan dan sudah diberi kesempatan untuk memperbaiki diri tetapi tidak mau menggunakan kesempatan itu dengan baik.
Anda lupa untuk melihat akan jadi apa lulusan-lulusan IPDN itu. Mereka itu akan menjadi public servant yang seharusnya memiliki service mindset, bukan manusia arogan yang sejak sekolahnya saja sudah tampak sangat arogan dan membanggakan kekerasan yang pernah dikerjakannya.
Di sebuah kereta api pernah terjadi pertemuan tidak di sengaja oleh murid sebuah sekolah di Magelang dengan beberapa praja STPDN (belum IPDN). Para praja itu sangat membanggakan kekerasan yang telah berhasil dilakukannya pada juniornya.
Anda mungkin tidak tahu hal-hal semacam itu, kan, Tuan Erander?
Kalau kesempatan sudah diberikan. Tapi nggak ada perubahan. Ya gimana lagi.
Tapi bagaimanapun juga, kita hanya tahu luarnya, belum ada penelitian komprehensif.
Tunggu hasil investigasinya tim investigasinya aja. Kalau masuk akal ya diterima (apapun itu, termasuk kalau tidak jadi bubar), kalo bau-bau suap diprotes.
Mbak, Mbak, punya pendapat beda gak papa kan, ya?
Aku ngerti arah berpikir/merasanya Mbak Evy & teman2 petitioners. Cumaaa… mungkin karena aku tuh all-brain-no-feeling, aku lebih cocok dengan cara berpikirnya Madsyair (nomor 14).
Bukan tidak mendukung IPDN dibubarkan, cuma gak merasa perlu menandatangani petisi aja. Petisi bukan satu2nya cara untuk menunjukkan kepedulian kan?
*bener deh, Mbak, kayaknya Mbak jadi emosional banget tulisannya
Kemana Mbak Evy yg suka tersenyum?*
alhamdulillah… sudah bisa blogwalking lagi…
salut deh buat mba’ satu ini… konsisten banget…
‘tul mba’, kalau mau berjuang kenapa harus setengah hati, ya gak?
jangan sampai contoh-contoh pejabat yang sekarang ini menjadi flagship kekerasan model baru…
rembesan tingkah laku dan pola pikir kekerasan dalam dunia pendidikan (apalagi ini institusi yang notabene mencetak kader-kader pemimpin) sama sekali tidak bisa ditolerir…
siapa yang preman dipimpin sama preman, punya hati dilebur darah, punya kepalan sebesar kepala
Dulu masyarakat berharap, dengan adanya kasus wahyu hidayat, stpdn akan berubah setelah dilebur dengan IIP. Dalam peleburan tersebut, ternyata model STPDN yang dominan.
Jadi,masih ada alternatif,BAGAIMANA KALAU POLA DI IIP YG DITERAPKAN?
Pola pembinaan model senioritas,yang cenderung membuat senior jadi jumawa,main pukul seenaknya dengan alasan membina junior.
Jadi,masih ada alternatif, bagaimana kalau pola senioritas dihapus?
Selama ini,para pengelola IPDN,mendiamkan kekerasan dan penyimpangan terjadi. bagaimana kalau pengelola IPDN diganti total? bagaimana kalau model pembinaan pesantren diterapkan di IPDN dengan pengelola adalah para ustadz (tentunya untuk yg muslim) atau tokoh agama lainnya?
Beberapa alternatif di atas, mungkin bisa diterapkan untuk praja yg baru nantinya.
KALAU MEMANG TIDAK LAGI DIMUNGKINKAN PERBAIKAN IPDN, SAYA DUKUNG PEMBUBARANNYA..
ANALOGI SAYA,KALAU SAKIT GIGI,SELAMA SEBAB SAKIT GIGNYA BISA DIATASI,MISALKAN DENGAN RAJIN SIKAT GIGI,MEMERIKSA GIGI,MENAMBAL JIKA BERLUBANG,KENAPA HARUS DICABUT GIGINYA? KALAU MEMANG GIGINYA SUDAH RUSAK,YA CABUT SAJA.
INI PENDAPAT SAYA. TIDAK APA-APA KAN,KALAU SAYA BEDA PENDAPAT?
Nambah,bu! Masih lapar
Yang bikin blog IPDN benar dari IPDN? Kalau memang ya, apakah semua praja mempunyai pola pikir begitu? Kalau memang ya, perlu diservice lagi mereka di bengkel prilaku dan moral. Kalau pola pikir mereka begitu, negara ini mau dikemanakan?
Semoga Praja-praja yang baru (kalau tidak jadi dibubarkan) akan menjadi generasi yang baik.
aku juga heran. beberapa hari ini muter2, nemu beberapa postingan ( dan komen) yg mati-matian menentang pembubaran IPDN, menganggap petisi ini konyol dan buka solusi….ga ngerti deh cara berpikir mereka. lama-lama males ngejawab. yang di blogku juga aku jwb seperlunya. percuma berdebat sm yg gak punya hati nurani. saat kita nangis ngeliat ibu si cliff, ibu si aliyan nangis…wah ga ngerti deh apa yg ada di otak mereka. sedih, euy…:(
@wadehel
Bubarnya IPDN akan sekaligus jadi tumbal, kampus lain akan mikir-mikir kalau mau mendiamkan kekerasan. Mereka akan jadi lebih aware.
Mudah2an harapan kita sama ya mas Guh. Jadi aware. Jangan sampai menumpaskan KKN Orde Baru ditumbangkan muncul KKN Versi Baru. Itu yang saya maksud mas. IPDN dibubarkan. Trus menjelma jadi institusi lain. Makanya di blog saya .. kalo mas sempat baca posting saya Bertanya kepada IPDN. Apakah untuk menjadi pamong praja mesti lewat IPDN apa ga bisa lewat Universitas di FISIP atau apalah. Itu yang saya maksud mas. Soal kekerasan adalah inti masalahnya. Sama dengan banner saya STOP KEKERASAN terhadap anak2. KDRT. IPDN, Opspek dll.
Trus .. sebenarnya tanpa dibubarkan pun kalau semua daerah tidak mau mengirimkan prajakan ke IPDN maka dengan sendirinya IPDN ga laku. (Kalbar dan beberapa daerah INTIM sudah ga mau ngirimkan) serta orang2 tua boikot untuk tidak mengijinkan anaknya sekolah di IPDN. Nah, dengan cara ini .. pasti IPDN mati sendiri.
Wah Bu, saya seneng baca blog ibu kalo nulis tentang contemporary issue, tulisannya dalam, hangat tapi nendang. (pertama kali baca blog ibu yg ada tentang operasi rahangnya sy langsung trauma, maaf T_T).
Saya anti kekerasan, tapi entah mengapa saya belum mau ikutan petisi (maafkan). Saya mau cari info lebih banyak lagi supaya bisa tulus ikut petisi.
Gak masalah kalau IPDN bubar. Emangnya yang jadi camat atau lurah harus lulusan IPDN doank? Kalau calon2 Camat dididik dengan penuh kekerasan seperti itu pantes aja camat di Indonesia pada geblek dan gk berperasaan. Kasus IPDN yang kesekian kalinya benar-benar memalukan bangsa ini. Situasi itu menunjukkan bahwa bangsa ini masih bangsa yang tertinggal. Bener2 bodoh!
@Errander (31)
Amiiiin… makanya itu harus diusut tuntas. Kalo kata may (yang sekilas seperti Errander, terkesan ga setuju banget sama pembubaran), harus diusut sampai ke akar-akarnya yang sekarang sudah bercokol dipemerintahan.
Btw, bagi saya, kekerasan BUKAN satu-satunya inti masalah. Sebenernya sudah saya singgung di “demi indonesia kok dibilang konyol?“. Singkatnya gini:
Soal kekerasan, itu sampai detik ini masih jadi budaya kita. Tapi yang lebih bermasalah itu adalah KKN nya. Bayangin pak, udah sekolah gratis (dibiayain rakyat), setelah menjabat masih juga korup (nipu rakyat), atau minimal mendiamkan aksi korupsi (blom nemu cerita lulusan STPDN melawan KKN).
Wajar kalau anda-anda pesimis dengan petisi, karena kemungkinan besar, mereka ini (para pejabat korup) akan mempertahankan IPDN habis2an, karena dari IPDN-lah akan didapat para lulusan yang pandai menurut dan menutupi kebusukan atasan. Kemampuan ini terbukti dari aksi tutup mulut dan kekompakan menutupi segala kasus.
Btw, meski dari daerah secara resmi tidak akan mengirim lagi, saya pikir, para “PNS, Camat dan Pejabat wanabe” akan tetap berebut masuk kesana
, nyogok pun tetap rela, toh nantinya akan balik modal. KKN tidak mungkin mati sendiri pak, harus dibasmi.
Mba’ iya bener…sekarang bangsa kita lagi terfokus dengan Kasus Virginia Tech. walaupun saya sdh tdk lagi menulis tentang IPDN, bukan berarti saya sdh menyerah atau lupa. saya tetap memantau lewat Media bahkan tetap membaca seluruh tulisan teman-teman yg berbau IPDN. dan saya tetap mendukung seluruh Usulan teman-teman (Petisi Online).
[...] baca tulisan dari bu’ Dokter, tentang alasan rasional pembubaran IPDN saya bisa jadi lebih tenang, karena selama ini yang saya [...]
pokonya aku masih sebel sama IPDN .
mendukung yg terbaikselalu dengan senyuman
bunda apa kabar neh..
nyepam hatrixxx… apa sih artinya biho?
Ntar penuh RS Jiwa nya
Walah parah pisan uth kang moso nyamain mereka dengan robot biologis yang berGTM
Itulah nak yg kita pikirkan kedepannya masak kita di pimpin oleh orang2 berhati “dingin” berotot besi? Hiks itu jamannya anak2 cucuku jee..
Betul Mufti kita khan cuman menyampaikan sebagai rakyat kita berhak ikut memikirkan masa depan bangsa dan negara to?
BANZAAIIII!!!! Apaan sih?
Lha mestine alasan rasional apa mempertahankan IPDN gitu khan?
Sisi feminine piye to nduk cah ayu? Ini aja aku udah dibilang kehilangan senyum terus dan emosional jeee…, itu kali yaa makanya feminine wong penuh dengan emosi melulu. Ya bener gpp kok yang penting denger aja hati nurani-mu ini khan demi anak cucu, klo suatu saat terjadi kekacauan kita bukan termasuk orang yang diam saja atau bahkan pendukung kekacauan itu…tapi inget berjuang tetep dengan senyum ya nduk.
Iya neeh mas mas, gawat deh aku klo udah sedih dan terluka bisa panjaaang dan lamaaa…. Ada banyak korban mosok aku disuruh tetep senyum mas? Hiks…sekali2 nangis lak gpp to?
Mas Ebi gpp kok beda pendapat itu biasa, keperdulian juga bentuk-nya lain2 kok mas, yang penting saling memahami aja toh pada intinya semua untuk bangsa dan negara bukan untuk kepentingan pribadi ya to?
Jawab lainnya baca coment wadehel sama kang kombor ya mas…
Ya klo pun ga di bubarkan ya sudah gpp kita harus dukung pak presiden dan membantu beliau mengawasi IPDN klo perlu field trip kesana hehehe
Ya bener mas klo gigi tersebut masih bias di perbaiki lebih baik di rawat syarafnya di buang dan di ganti isinya pake obat2an trus di tambel, tapi tentu ga sebagus gigi yang belum rusak meski tetep bias befungsi. Tapi klo sudah membuat infeksi dan bakteri2 nya menyebar gawat bias sepsis mas, jadi pencabutan adalah cara untuk mencegah kerusakan yg lebih parah, bukan sekedar buang saja lho mas, inget intinya mencegah penyebarang penyakit yang lebih parah.
Thanks ya hell, aku mo nulis yang itu radha serem juga, ntar jadi meluas jee permasalahannya meski sebenernya sudah luas to? Kamu aja hell yang nulis.
Wah aku ga emosi di bilang emosional jadi mangkel deeh mbak..
alasan rasional apalagi yang bisa diterima akal sehat agar IPDN bisa dipertahankan? Nah itu apa coba? Sapa bisa menjawab ini?
Kebenaran absolut spt matematika ya pak, manusia tidak absolut sekarang A besok bias jadi Z…
Ya kang kekerasan yang dibanggakan oleh abdi negara…waduh..lha sing tentara aja ga gitu jee..
.
Ya khan ini bukan kejadian pertama kali to? Iya kita tunggu aja ya mas mudah2an jujur
Eh ga pa pa kok dik, beda pendapat khan biasa hehehe, ga ada masalah kok, bukan berarti ga perduli, ya perduli caranya lain2 ya khan dik? Klo masalah ga tanda tangan petisi juga ga ada masalah kok, emang mustinya comentnya itu ditutup sih… aku juga riisi bacanya…Weee mosok aku nulis emosional to dik, wah padahal udah berusaha rasional jeee… yo wis tak semedi sik hahahaha
Mang kemana aja mas, kok ga bias blog walking? Waaa aku klo udah kesakitan dan consent ya gini jeleknyaa… btw kamu pasti pake kalimat puitis ya Ar…? Hehehe keren tuh
Wiii senenge tanduk terus… gpp kok mas, gratis hehehe
Pola senioritas di hapus kek nya agak sulit deh mas, di universitas aja sulit itu klo baca di blog herman juga pengalaman di kampusku juga begitu susaaah sekali merubah yg udah jadi tradisi… udah kujawab ya mas, sama sekali gpp dan ga papa juga to klo aku punya alasan mau itu emosional maupun rasional hehehe…
Thanks ya pret… iya gpp kok, itu khan pendapat masing2
waaah kok pake gebuk monyet to?
Virginia tech cuman satu yud yg sakit jiwa hasilnya kek gitu apalagi klo sekampus
jangan sebel tapi sayang Jok
bener banget le, baik cuman agak sibuk jd ga sempet blog walking sorry ya
http://kompas.com/kompas-cetak/0704/21/utama/3469658.htm
Mbak Evy : maksud saya, saya telah nyepam di postingan ini sampai hatrixxx tga kali dari nomor 1 s/d 3
weh… maksudnya bukan gitu lho bu dok !
salah pengertian neh
@ Biho
kenapa kok nyepam?
@ mbak X
aku ngerti kok maksudmu kok, itu aku cuman curhat… iya aku juga ga emosi kok sebenernya dengan senyum meski kecut gimana mau senyum2 mbaak klo segitu banyak yang dadanya hancur, kepalanya pecah? Tapi aku di katain sama orang lain mbak bukan dirimu, klo aku mengambil keputusan yang emosional gitu lho say… curhat neeh lagi pengen curhaat gantian dunk…hehehe
iya nyepam, harusnya saya cukup komentar satu kali saja dengan komentar yang bermutu, maaf ya Mbak, sing sabar aja yoo curhat ke sayah aja seperti biasa,,.. heh he he
[...] mengapa bubar adalah suatu pilihan rasional telah kutulis, adik kecil yang pinter nulis dan nggambar ini menjelaskan dengan gamblangnya [...]
kok gak bosen bosen ya ngomongin ni ipdn.
holoh..holoh…..bu dokter gak da matinye!!!!
bisa2nya nulis beginian terus2san..saking speechless nya, saya gak pengen nge posting yang beginian, baca opini dokter evy ajah dah seneng, mungkin itu naluri seorang ibu ya, met HARI KERTINI deh….*lho opo hubungane*
Wuih semangatnya bu dokter ini. Apa pun yang terjadi kebenaran memang harus berdiri tegak. OK
Ijin nulis blognya di tempat saya bu bia gampang kalau mau melompat ke amerika.
alasan kenapa IPDN harus dibubarkan, selain hal yang rasional, juga adalah irrasional jika Pemerintah Reformasi mempertahankan kebijakan lama untuk membuat kader-kader yang tidak memiliki hati nurani. Dan itu sudah begitu tampak ditampilkan baik oleh alumnus dan terutama oleh mahasiswa dan pengurus IPDNnya.
[...] diese schreckliche Einrichtung Stilllegung ist. Sie können alle Hoffnungen auf meinen Kameraden hier, hier, hier, und hier [...]