UPDATE :
Setelah menemukan tulisan seorang PRAJA IPDN ini :
SCTV terlalu berlebihan!!!!!puluhan ribu alumni STPDN/IPDN te3lah mengabdi di tanah air Indonesia ini.apa hanya karena kematian 37 praja yang notabenenya belum tentu disebabkan pembinaan senior, SEKOLAH QTA DIBUBARKAN??????saya TDK SETUJU!!!!!wujudkan korsa sbg purna dengan mengirimkan testimonial kepada rekan2 & handai taulan.
Aku kasihan sekali sama praja IPDN, sudah rusak otaknya kena brainwash, kemana hati nurani-mu anak2 muda? Menurutku IPDN HARUS DITUTUP dan PRAJAnya solusinya mungkin perlu di rehabilitasi secara fisik dan mental, untuk selanjutnya disalurkan ke sekolah ILMU Administrasi Negara. Yang harus di pikirkan selanjutnya bagaimana lulusannya? Kemudian kampus yg megah dan berhantu itu untuk apa?
Cerita di bawah ini hanya khayalan-ku sebagai siswa disitu, aku terlalu yg terlalu perasa… kenyataan-nya mereka sama sekali tidak perduli… aku nangiiissssssssssssssssssss baca tulisan di atas…
(
Malam itu aku berada disana Cliff datang terlambat, seperti malam2 jahanam sebelumnya, malam itu kami praja madya harus menghadap senior untuk mendapatkan ”PEMBINAAN” tanpa kami tahu dimana letak pembinaan itu sebenarnya? Tapi kami hanya yunior, kami tak boleh bertanya, kami hanya tahu kalau pada jam 10 malam, kami harus menyiapkan badan untuk menjadi santapan sansak para senior kami yang haus darah. Pada saat kami seharusnya sudah beristirahat mengumpulkan tenaga untuk kegiatan di esok hari.
Cliff tertunduk dan tak mampu berkata, alasan apapun tidak menjadi excused untuk menghindari kegiatan ini. 11 orang anggota “organisasi rahasia” itu seperti mendapat “suguhan hangat” saat melihat Clift, mereka langsung mengeroyoknya, dengan wajah dingin tanpa kenal ampun seolah Cliff adalah koruptor maling ayam.
Aku ingin menghentikannya tapi aku tak mampu, protesku berarti menyiramkan bensin, siksaan itu akan bertambah kejam. Aku sebenernya tak takut meski aku perempuan…karena tanpa kusadari ilmu silat yang kupelajari waktu di kampung dulu membuat badanku cukup tahan, tapi Cliff? Bocah itu tak sempat beristirahat karena kegiatan paskribraka, kegiatan ini menguras fisiknya yang telah kelelahan tak berdaya …
Aku tertunduk, menggigit bibir menahan air mataku tertumpah… akhirnya Cliff terkulai lunglai di sudut, aku tahu Clift telah pergi… pukulan2 dan tendangan maut telah menghantarkannya ke alam baka…
Cliff, temanku dari Manado, pemuda harapan orangtua dan masyarakat SULUT, calon Pak Camat itu meninggal sia2…menyusul senior kami Wahyu (2003), Ery Rachman (2000).
“Organisasi rahasia” itu menelpon “Sopandi” petugas kamar mayat RS Al-Islam untuk menyuntikan formalin di tubuhnya, agar pada saat autopsi tidak terdeteksi lebam pukulan itu, begitu rapih dan teroganisir kerja mereka. Tidak ada satupun dari kami berani menyebut nama mereka, kami tahu akibatnya adalah siksaan.
Beberapa hari kemudian di Media Massa:
7 praja nindya sudah ditahan di Polres Sumedang. Mereka adalah Ahmad Ari Harahap, Hikmat Faisal, Frans Jocku, Amrullah, Fendi Notohbuo, Bustanil, dan Jaka Anugerah Putra. Empat praja ditahan pada 5 April 2007 dan tiga lainnya ditahan tanggal 7 April. Semua praja yang ditahan sudah diberhentikan dengan tidak hormat.
Bagaimana nasib mereka kelak, apakah pemecatan dengan tidak hormat sudah cukup menjadi hukuman bagi kegiatan yang telah dilakuakn turun temurun ini? Apakah hal ini malahan akan membuat mereka kelak akan melanjutkan kegiatan mereka menjadi PREMAN sesungguhnya? Aku tak tahu…
Aku tak tahu sejak kapan tradisi “Pembinaan” ini di sekolahku, yang aku tahu di Magelang sana tempat Pendidikan Militer yang sebenarnya, tak kudengar kasus seperti yang terjadi pada Cliff, Ery dan Wahyu. Fisik kami memang tidak di latih sekuat para prajurit itu… tapi kenapa kami harus menjadi sansak para senior? Aku tak tahu ….
Kepergian Cliff mengundang amarah sekali lagi seperti waktu kepergian Wahyu, waktu itu membuat nama sekolah kami berganti nama STPDN menjadi IPDN, tapi tidak kulturnya. Media massa dan bloggers menghujat sekolah kami pencetak pembunuh, pengeroyok, preman dan semua P jelek lainnya , masyarakat meminta sekolah kami di bubarkan.
Apakah aku masih bisa merajut kembali cita-citaku menjadi camat? Ataukah aku harus pulang kampung, apa yang harus kukatakan pada simbok dan pakne-ku? Aku tak tahu…
Engkau telah pergi menghadapNya Cliff, engkau telah damai disana bersama Eri dan Wahyu, tak ada lagi malam2 jahanam menghampirimu. Entah selanjutnya bagaimana nasib kami? Siapakah dari kami yang akan menyusulmu? Arrggh…aku tak tahu…
Oh..ya Allah semoga ini hanya mimpi buruk ibu2 STW yang gaptek ini , hiks…
(








mbak…anak2 yg melakukan pembunuhan gak “tahu” /menyadari /”gak mengerti” tindakan mereka salah…mereka taunya,boleh melakukan itu kapanpun emosi itu ada, entah apa yg salah. Ngerti kan maksudku dgn kata “tidak mengerti” itu? Pasti ada yg salah di dalam nurani mereka…ada lubang besar yg tidak disadari ada….aku juga menuliskan ttg ini meski implisit aja….( “bekal untuk mereka” ) mungkin mereka tidak kenal arti cinta dan kasih sayang….
Ada dua hal yang Azab-Nya dibayar Cash di dunia ini oleh Allah yaitu :
1. Durhaka Kepada Orang Tua
2. Menzholimi orang lain
Kategori 2 ,termasuk kepada orang-orang yang membuat Clift tewas.
Azab apa yang akan menimpa kepada mereka… kita pantau terus kepada sang pengeroyok (saya mecoba mendapatkan gambar-gambar mereka untuk kemudian akan saya buatkan keterangan di bawahnya “INILAH PARA PENGEROYOK YANG MEMBUAT CLIFT MUNTU TEWAS” gimana ?)
Yang paling saya prihatin, falsafah pramong praja (pengurus wilayah dan masyarakat) dilatih menjadi penjahat rakyat. Mereka hatinya akan membatu. Kita akan rasakan kan kalau kita berhubungan dengan mereka. IPDN menjadi bagian dari pembusukkan bangsa ini. Pejabat lulusan IPDN sekarang tentu ada yang sudah jadi pejabat dari lurah, camat, bupati, ajudan bupati atau lebih atas lagi, yang sesungguhnya telah beku hatinya.
Pantas negara ini susah bangkit. IPDN/STPDN/APDN (nama baru nantinya) berkontribusi.
Tujuan akhirnya kelanggengan kekuasaan. Mereka dilatih hormat dan takut pada atasan, jahat kepada bawah. Ini hanya ada dihukum kehewanan.
Mana buktinya?
Dari tahun 90 sampai 2006, tidak ada mahasiswa IPDN yang diberitakan berani menegakkan kebenaran, bahkan ketika dirinya sendiri dianiaya. Apakah ini bukan bukti.
wow ipdn ada teorinya ngak ya bikin pendidikan seperti itu???
mbak Evy salam kenal. aku pingin belajar banyak dari mbak evy. tulisannya menggigit, sampai2 aku nggak bisa lepas darinya. hehe..
@Mbak Endang
Kalau sesuatu sudah menjadi hal yang turun temurun memang mereka jadiga bisa lepas, sy juga prihatin
@Pak Dedi
Ya silahkan pak tapi mereka itu hanya sebagian yang “ketahuan” dan kebetulan berperkara, bagaimana dengan yang lain yang pernah melakukan tapi kebetulan “selamat” saya yakin banyak sekali yg telah lulus maupun sedang sekolah?
@Pak Agor
Saya pikir juga “moral” seperti itu yang harus di rubah karena prinsip pendidikannya tidak sama dengan “MILITER”, militer di ajari menghormati atasan dan membimbing bawahan, militer juag kuat sekali ikatannya hal tsb mereka perlukan pada saat berperang, karena kondisinya tidak boleh berbantahan hanya turut perintah. Sipil khan lain, apalagi camat.. mosok lurahnya mau di perintah2 doang…?
@Kangguru
Entahlah kang nyontek dari mana? Kok brutal?
@Rusdin
Ehhmm belajar apa ya..kamu siswa IPDN ya? Kok pake seragam spt militer? crita dong yg sebenernya bagaimana, yg diatas khan hanya mimpi burukku saja…
baik clift, wahyu dkk dan sang “pembunuh” adalah korban dari sebuah kebobrokan sistem pendidikan di IPDN..
Iya mas rusdin, saya juga penasaran nech, bener ga sech sebegitu kejamnya, tapi ngomong-ngomong benaran nih mas rusdin siswa atao alumni IPDN
Saya sudah lihat videonya. Heran aja melihat manusia kok berbuat begitu terhadap sesamanya. Sepertinya yang ada dipikiran mereka cuma hajar, bantai, pukul, jotos, tendang dll. Mereka tidak memikirkan bagaimana kedepannya. Faktor dendam akibat dulu mereka diperlakukan seperti itu juga membuat tradisi ini nggak ada habisnya. Saya jadi ingin tahu modul yang diajarkan disana seperti apa, kok pakai fisik segala? Di akpol aja ga sesadis itu. Heran
…
bukan iba yang diharapkan mereka …
bukan caci dan makian yang menyayat hati mereka …
kata siapa kita tidak sedarah …
kita dilahirkan oleh satu keinginan …
kita masih satu tanah …
mungkin airnya yang kini sudah melimpah …
tapi kita tetap masih satu bangsa …
kita adalah anak-anak bangsa ini …
kita tunas-tunas harapan para pejuang negeri ini …
pejuang kemerdekaan …
pejuang revolusi …
pejuang reformasi …
kata siapa darah kita tidak sama …
walau ada yang berwarna biru …
tapi kita masih satu ibu …
ibu bumi yang dulunya tentram gemah ripah loh jinawi …
kini burung gagak dari pucuk segitiga si menara pun
semakin mengintai bila kita lengah …
…
bubar atau hapus atau apalah namanya sejenis itu
bukan solusi yang tepat …
membunuh nyamuk dengan tenaga, badan yang sakit nyamuk pun terbang …
…
[...] semua link yg aku klik pasti berhubungan dg postingan yg ber-bau IPDN… kang kombor, pa agor, bu Evy, mas Anto., calupict, .. dan banyak lagi [...]
@ freewheelingleader
manusia itu beda2 om! kalo ente nganggep yang terjadi di IPDN itu wajar, mungkin aja sanda sefaham dengan mereka.
pendidikan itu bukan dengan tinjuan!
masi banyak cara lain.
kalau kita biarkan yang seperti itu ada terus, ya akan semakin banyak terlahir pejabat2 laknat yang ga punya hati nurani.
udah ah, anda juga ngga punya solusi lain kan? diam adalah hikmah™
tapi kalau dalam kasus ini, diam adalah pengkhianatan™
sudah waktunya kita tidak sekedar berkomentar dan menyalahkan orang lain atas berbagai persoalan bangsa, tapi mari menyumbang solusi.
….. bentar, masih mikir, solusi apa yang bisa aku sumbangkan?…..
halah, ternyata belum ada! maap, maap, maap….
Salah satu anggota keluarga tersangka menyatakan klo si tersangka *Frans Jocku* itu anak baik2 , paling penurut di banding anggota keluarga yang lain.. . Hmm..klo pernyataan si kakak tersangka itu benar, jadi yang salah sistem pendidikan kampusnya? masi ada yang ragu buat bubarin IPDN? ngabis2in duid rakyat doank nie kampus.. -__- ..
eh tapi klo kata temen saya yang mantan calon mhs situ bilang klo masuk situ juga kudu keluar duid berpuluh2 juta..
lho..
bukannya IPDN itu gratis?
Mereka itu BINATANG. Semoga mendapat balasan yang setimpal baik itu di dunia maupun di akhirat. Tapi namanya mafia, sepertinya hukuman di dunia (MUNGKIN untuk jangka pendek tidak akan terasa berat). Semoga di masa depan keadaan mereka akan JAUH LEBIH BURUK DARI PADA MATI DIBUNUH.
Saya mengajak rekan-rekan semua untuk mengutuk perbuatan mereka dan mendoakan arwah korban semoga diterima di sisi-NYA. Mari kita kutuk agar mereka mendapat balasan yang setimpal secepatnya.
Tapi, apakah para junior akan mengikuti langkah seniornya? Apa karena posisi yang masih junior maka mereka merasa menderita. Bagaimana kalau sudah menjadi senior? Saya kira mungkin sama saja.
Intinya…… BUBARKAN SAJA. TITIK. Terlalu BODOH untuk tidak membubarkannya.
ceritanya sedih ya bu…
mengenaskan
harus mati di tangan kakak senior
Ayo dukung Inu Kencana!
Radio yang lagi disetel di warnet ini lagi ngomongin IPDN.
Tapi mengingat kerasnya kehidupan pejabat & pengabdi masyarakat tingkat atas sekarang, sepertinya kegiatan seperti itu bermanfaat untuk orientasi sekaligus seleksi. *kejam*
denger punya denger, semua anak pamong praja wajib hukumnya *di titipkan* ke sekolah tersebut. dan merekalah “biasanya” para pelaku tindak kekerasan terhadap anak2 yang memang benar2 murni berhasil masuk tanpa esek2 di belakangnya…—->kata teman yang mantannya anak STPDN(anak camat medan)
Baca ini jadi tambah muak aja nih sama senioritas dan budaya kekerasan.
Btw Bu, linknya joerig kebanyakan HTTP tuh, jadi ga nyambung.
prihatin ya bu kl melihat realitas yg ada. sekolah calon pamong praja namun tindak kekerasan maupun penyimpangan seksual sering terjadi. bahkan yg meninggal pun jg tdk sedikit. mau jadi apa alumninya kalo selama sekolah sering menggunakan kekerasan dg dalih mendidik. semoga yg berbuat kekerasan bahkan yg mengakibatkan siswa meninggal itu bs mempertanggung jawabkan perbuatannya di akherat kelak.
IPDN woouuu….Itu lah gambaran bangsa ini, calon pemimpin, seorang mahasiswa, telah di ajarkan di latih untuk bertindak menyakiti sesama, seperti tidak bermoral alias Hewan..
Dari seragamnya saja sudah sangat kelihatan ” Sombong ” melebihi Militer, kenapa musti harus pakai seragam ke mana-mana sombong memang songong…
Pemerintah harus lah menciptakan pendidikan yang murah???, agar bangsa ini bisa maju, sebagai bangsa yang besar bukan besar karena jumlah kepala banyak tapi tidak berkualitas.
Jangan lagi ada pembodohan di bangsa ini, Anak yang lahir dan Ibu menyusui kurang gizi. kenapa karena Susu mahal??????banyak orang tua yang menganggur….lapangan kerja sangat susah..
ribuan ABG yang bergaya jetset….membuang waktu dan uang..
Indonesia ini sudah sangat ketinggalan dengan bangsa lain, mulai dari
Ekonomi, Budaya, olahraga, tehnologi dll. kita hanya menang jumlah Korupsi, teroris,
Sangat sedih rasanya…permasalahan yang di alami semua bangsa ini.
biar lah pemerintah…dari Presiden s/d Keplor ( kepala lorong ) dan masyarakat mau membangun bersama bangsa Indonesia ini.
IPDN hanya merupakan gambaran kecil…selamat jalan Cliff biar jasamu ini akan menyadarkan bangsa ini ke arah yang lebih maju.GBU
tutup telinga, mata, dan mulutmu…
pasti semua terasa lebih mudah bagi praja-praja junior…
@ freewheelingleadermanusia itu beda2 om! kalo ente nganggep yang terjadi di IPDN itu wajar, mungkin aja sanda sefaham dengan mereka.
@antobilang
wah, ente salah terjemehin tulisan ane tuh. kalo ente ane anggep sefaham same koruptor gimane? la ente sendiri korupin kate-kate ane.
pendidikan itu bukan dengan tinjuan!
masi banyak cara lain.
kalau kita biarkan yang seperti itu ada terus, ya akan semakin banyak terlahir pejabat2 laknat yang ga punya hati nurani.
@antobilang
ente bilang masih banyak cara lain. bise kagak ente tunjukin care lainnye?
udah ah, anda juga ngga punya solusi lain kan? diam adalah hikmah™
tapi kalau dalam kasus ini, diam adalah pengkhianatan™
@antobilang
ente saleh kalo anggep ane kagak punye solusinye. sebelum ente cuap-cuap, ane udeh buat link same temen-temen. sebelum ente sekedar ikut prihatin, ane udah siapin segepok berite acarenye. sewaktu ente blogwalking, ane walking sane walking sini bikin pekare nyang ente kagak sanggup nyelesainnye.
jadi, kalo ente mo bilang ape-ape, kudu ati-ati, semuanye kudu diitung mateng-mateng. same ama ni kejadian, kalo kagak diitung ati-ati jadinye same seperti nyang dulu-dulu aje. ente faham kan maksud ane?
oya, ente bilang semua blogger itu bersaudare kan? nah ntu tulisan mirip nyang ente maksudkan disitu.
jadi tambah pusing
(
Apa sekarang ini masih ada opsi diam untuk para praja junior?
Memang tragis kejadian di sekolah elite tersebut. Aku udah pernah sarankan IPDN untuk dibubarkan dan diserahkan pada universitas negeri dalam menghasilkan para tenaga terdidik administrasi negara.
Kejadian ini pernah kualami sendiri saat aku masuk perguruan ekonomi di salemba. Tempat penggojlokan ada di kampus, dan dilakukan oleh para senior kami. Aku jalani penyiksaan tersebut selama tiga minggu, dan dilanjutkan dengan pelatihan militer walawa ( selama 1 bulan. Capenya nggak ketulungan, dan manfaatnya ku rasa engga ada!!! Jadi aku bisa bayangkan sendiri gimana kawan2 di IPDN melewati masa2 horor selama program pendidikan berlangsung.
Pola serupa dengan sistem yang lebih lunak sebenarnya masih berlangsung di sekolah tinggi di tanah air. Namanya pun beda2 (pembinaan mahasiswa baru, pengenalan kampus dsb). Tapi tetap inipun aku rasa engga ada manfaatnya!!!!
Yang bisa dilakukan, kalau aku jadi “menteri pendidikan atau rektor” (amin), maka aku akau larang sama sekali program2 seperti di atas. Kami harapkan perubahan segera terjadi!!!
saya setuju dengan mas adit (no.27) …
dan tambahan, saya juga heran, kenapa sekolah ilmu pemerintahan ini masih dibikin eksklusif seperti itu … dampaknya itu lo …
sistem pengawasannya, sistem pengajarannya, sistem auditnyo, dll semuanya serba tidak transparan … padahal kan mereka yang dididik itu akan diterjunkan ke masyarakat, yang notabene nantinya akan mereka pimpin … itulah yang terjadi sekarang di Indonesia, pedagang kecil dijegal, orang kecil dipencet, siapa yg melakukannya? lihat di televisi! kekejaman polisi pamong praja, sampai di tempat kami ada pedagang yang mati, lihat siapa yang memimpinnya, jangan-jangan mereka itu termasuk yang suka nyiksa itu … ada juga gubernur/walikota/bupati/camat yang preman, coba baca lagi di koran-koran atau ingat-ingat berita di televisi … jangan-jangan mereka itu dulu suka nyiksa orang juga …
weleh999x … si komo lewat … “kom, kalau pendapat kamu gimana?”
… “pendapat gua? semua blogger ini pada kumpul di satu tempat, bikin langkah nyata, jangan asal cuap aja disini… hehehe…”
“dasar kamu kom… “
sorry bu evy, aku balesin FWL di sini :
@ FWL
korup gimana maksudnya? yang jelas dong ah.
yang jelas gw udah muak (boleh dong gw beda pendapat dengan anda?) kalo ada orang2 sok suci yang sok bijak bilang bahwa pembubaran IPDN adalah bukan solusi.
pembekuan pun hanya menimbun masalah, tanpa pernah mau menyelesaikan. itu cuma lari dari masalah!
cara untuk mendidik yang tanpa kekerasan?
banyak lah, masa sih kagak ngarti?
link apaan nih maksudnya? wong blog anda saya akses tulisannya not found!
saya terus terang ga bisa mencerna maksud anda. sumpe deh..
@ nomercy
baca ini deh :
http://roffigrandiosa.wordpress.com/2007/04/13/pernyataan-sikap/#comment-1291
Kebobrokan yang sudah mendarah daging dan melembaga seperti ini memang hanya bisa dilakukan dengan penumpasan sampai akar2nya…
Kalau seperti ini terus maka pada akhirnya Indonesia hanya akan dipenuhi dengan pemimpin2 (lurah, camat dll) yang bejat.
Bukannya jadi PEJABAT tetapi malahan jadi PEBEJAT…mau jadi apa kalian wahai para praja?
Sekali2 bayangkan yang kalian hajar adalah Bapak atau Ibu kalian? Kalau kalian selalu mengingat pengalaman pribadi ketika “dibina” senior, rantai setan ini tdk akan pernah putus.
satu kata “Bubarkan IPDN” titik, pentol gede.
bukan solusi? walah, pembubaran itu solusi satu-satunya, kalo intinya adalah mencetak pelayan masyarakat yang dekat dengan rakyat cari tuh di warung kopi, ribuan!
Hipotesa bahwa kultur dendam yang kolektif memang merebak jauh di masyarakat kita. dan itu benar saya lihat ketika masyarakat menyikapi masalah IPDN.
Praja dan Dosen IPDN ===> Sudah jatuh tertimpa tangga!
Bantu mereka, merdekakan mereka! Jangan bunuh masa depan mereka!
mau perpanjang ktp jadi takut nih…takut diterjangin dulu hikhik…
@antobilang
maapin ane deh to, kalau begitu ane nyang saleh. ente maapin ane kagak nih?
buat nyang laen juge, kalau tulisan ane dirase kagak ngepas dimaapin ye.
prinsipnye, ane sedih, kalau bangse ini jadi begini.
setuju kagak nih?
juge buat dokter evy, maapin ane karene nulis nyang kagak bener
dan ane bukan nyang dokter kire
Yah, mungkin karena tempat mereka cukup terisolir dari dunia luar mereka enggak tahu bagaimana caranya menghadapi dunia luar. Rasanya perlu evaluasi dari psikolog.
hemh…pantes para birokat itu kayaknya pada goblok,,,wong otak mereka…sudah terlanjur soak akibat pemukulan saat pendidikan….. itulah gaya sok militer…gak malu sama militer beneran tuh…wakakak…pak militer hajar dong.alumnus IPDN yang mengambil lahan anda ..
#mbah keman
setuju,mbah!!
kalo ngurus apa2 sm pegawai negri itu susahnyaaaa….
banyak maunya,,
sok2 penting,,
prosedur dipersulit,,
ujung2nya duit,,
ya mungkin emang ga semua pejabat sih, tp so far belum nemu yg baik ni,,
jadi persepsi belum berubah..
rupanya pada ditonjokkin gt,,pantes kita kena getah errornya..
bu dokter,,
barusan aku buka link friendster yang bu dokter pasang itu,,
trus liat komen praja yg udah pada lulus,,
aku kok malahtambah sedih ya?
rasanya sumpek bgt gt,,
aku pas liat videonya di tv aja udah nangis,,
sekarang nangis lagi pas baca komen mereka di friendster itu,,
kok mereka pada bisa2nya bela almamater kya gt?
di mana letak kelayakan almamater mereka untuk dibela?
apa betul setelah jadi PNS lantas mereka sepenuhnya mengabdi?
kita kan tau sendiri gmn tingkahnya kebanyakan PNS,,
pake acara nyuruh diem Inu Kencana,,
orang mau bicara kebenaran kok dibungkam,,
pantes indonesia ga maju2 ya,bu,,
generasi muda calon pemimpin aja kya gt,,
mmm… pasti bakal jadi mimpi buruk bagi orang tua yang memasukkan anaknya ke IPDN…
lalu bagaimana dengan praja lainnya yang sudah keluar dari IPDN dan bekerja di pemerintahan atau instansi swasta… apakah sudah di cek kesehatan fisik maupun batin mereka? trims… coba perhatikan tulisan yang satu ini… http://ikatama.wordpress.com
tobil lempar trackback ke gua..
[...] Terbaru aina pada About MeKetika CLiff menyusul Wahyu dan Ery « SENYUM itu SEHAT pada Mengapa STPDN/IPDN Dibubarkan Lebih Baik?Ketika CLiff menyusul Wahyu dan Ery [...]
Pokoknya™!!!! Bubarken IPDN!!!!!
Bubarkan!
bubarkan !! sepakat !!
…..ya Allah ya Rahmaan ya Allah ya Rahiim…..
pernah baca pembelaan purna/praja STPDN/IPDN gak id friendsternya??
waduh! cepek deh! aku juga sekolah kedinasan, tapi nggak make mukul segala…
Sebenarnya ada dua pendekatan yang bisa dilakukan:
1. Bubarkan; dengan cara ini yang kita lakukan adalah penghapusan sama sekali IPDN/STPDN. Cara ini ditempuh jika kita tidak ingin mengadakan perbaikan, jadi cari gampangnya saja.
2. Berhentikan penerimaan siswa sampai 4 angkatan kedepan dan selama masa kosong 4 tahun itu semua sistem pendidikan dan materinya di susun baru termasuk para staff dan pengajarnya. Sehingga pada saat pembukaan baru, maka budaya yang ada sebelumnya telah terkikis habis dan aturan yang ditetapkan haruslah tegas untuk mencegah budaya lama muncul lagi.
hehehe… seru.
i == "bubarkan"
for i := i++
write(i);
[...] saya kami tak bisa tinggal diam sehingga banyak blogger yang mengeluarkan suaranya seperti anto, bu evy, deking, wadehel, cakmoki, manusia super, amd dan masiiih banyak lagi. Saya capek tebar ping [...]
[...] kita. Lantas Dia ‘memukul’ kita dengan peristiwa berikutnya, yaitu meninggalnya Praja Cliff Muntu di IPDN akibat ulah keji para seniornya. Bagaimana kita akan bersikap kali [...]
Wow, at least ada salah satu praja IPDN yang punya nurani
(eh… mbak evy ini praja kan ya??)
Oops salah baca mbak, berangkat sekarang ke Friendster nya hehehe
iya, udah bubar aja.
Yg gw denger dari keluarga si pelaku para pembunuh Cliff, rata-rata semuanya bilang bahwa” anak saya itu penurut dan pendiam”.
dimana-mana itu yang namanya pendiam lebih berbahaya…!!!
karena diam itu punya 1001 arti, bahkan lebih.
so bagi keluarga si pelaku, tak usah ngebela lah. yg salah ya bilang salah…!!!
[...] senior seperti Bang Asep, mungkin pelajar IPDN tidak perlu mampus. Kalau saja para senior almarhum Cliff memiliki kesadaran seperti Bang Asep, mungkin seorang ibu tak perlu menangisi makam anaknya. Kalau [...]
Wah… mbak.. aku ketinggalan berita nich… tapi setelah baca….
( mau di bawa kemana Indonesia nanti….? Koq orangnya sangar2 begitu….gak beda jauh ama preman di jalanan… cuma bedanya ini di kampus….:((
(
(
O O O…. SEDIH…
Kalo mau jadi preman ya.. gak usah sekolah aja… buang-buang duit… bener gak mbak??
[...] jangan clingak clinguk ga karuan!”. Perih rasanya hati, cinta tak berbalas, tersiksa pula oleh kekejaman senior seniornya. Namun ia memaksa untuk terus bertahan. Ia di sini atas kehendak kakak kandungnya, yang [...]
[...] nyanyi atau merayu pohon/rumput. Jelas juga hukuman ini ga bakalan bikin maba bernasib macam Cliff Muntu. Malahan mendidik melatih mental mereka supaya tidak jadi pengecut dalam menerima hukuman atas [...]
saya adalah mahasiswi fikom unpad yg kebetulan belajar dan kost di jatinangor, yang istilahya adalah tetangga dengan mahasiswa/i IPDN. dan setiap wiken saya pasti bertemu dengan para mahasiswa berseragam cokelat ini, dan satu hal yg selalu melintas di benak saya setiap ada korban yg jatuh adalah apakah saya pernah bertemu mereka????